Selasa, 18 November 2014

Koinfeksi HIV-Hepatitis



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Berdasarkan data Departemen kesehatan (Depkes) pada periode Juli-September 2006 secara kumulatif tercatat pengidap HIV positif di tanah air telah mencapai 4.617 orang dan AIDS 6.987 orang. Menderita HIV/AIDS di Indonesia dianggap aib, sehingga dapat menyebabkan tekanan psikologis terutama pada penderitanya maupun pada keluarga dan lingkungan disekeliling penderita.
Secara fisiologis HIV menyerang sisitem kekebalan tubuh penderitanya. Jika ditambah dengan stress psikososial-spiritual yang berkepanjangan pada pasien terinfeksi HIV, maka akan mempercepat terjadinya AIDS, bahkan meningkatkan angka kematian. Menurut Ross (1997), jika stress mencapai tahap kelelahan (exhausted stage), maka dapat menimbulkan kegagalan fungsi system imun yang memperparah keadaan pasien serta mempercepat terjadinya AIDS. Modulasi respon imun penderita HIV/AIDS akan menurun secara signifikan, seperti aktivitas APC (makrofag); Thl (CD4); IFN ; IL-2; Imunoglobulin A, G, E dan anti-HIV. Penurunan tersebut akan berdampak terhadap penurunan jumlah CD4 hingga mencapai 180 sel/ l per tahun.
Pada umumnya, koinfeksi Hepatitis C-HIV sering ditemukan, mungkin hal ini disebabkan karena penularan virus hepatitis C dan HIV terjadi melalui jalur yang serupa yaitu melalui perantaraan cairan tubuh. Prevalensi hepatitis C pada orang dengan HIV/AIDS (Odha) secara keseluruhan adalah sekitar 40%, namun terdapat variasi prevalensi pada masing-masing kelompok risiko. Beberapa studi menunjukkan bahwa prevalensi yang tinggi tertama ditemukan pada Odha yang merupakan pecandu narkotika suntik yaitu sekitar 50-90%. Studi EuroSIDA yang melibatkan 3048 Odha menunjukkan bahwa 33% dari mereka terinfeksi Hepatitis C.
Sementara khusus pada Odha yang merupakan pecandu narkotika suntik lebih dari 75% positif terinfeksi hepatitis C. Data dari Laboratorium Imunologi Subbagian Hematologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Mei 2000-awal Desember 2002 menunjukkan bahwa dari 199 Odha yang merupakan pecandu narkotika suntik, 125 (62,8%) orang terinfeksi Hepatitis C.
Koinfeksi hepatitis C dan HIV akan menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang serius mengingat adanya tren peningkatan kasus HIV/AIDS yang tertular melalui jarum suntik. Replikasi virus Hepatitis C akan meningkat dengan adanya infeksi HIV. Umumnya 20-30% orang yang terinfeksi hepatitis C akan berlanjut menjadi sirosis dalam waktu 10-20 tahun. Adanya ko-infeksi dengan HIV akan menyebabkan peningkatan insidens sirosis, juga akan menyebabkan interval antara infeksi sampai terjadinya sirosis menjadi memendek. Pengobatan HIV dengan HAART (High Active Anti Retroviral Treatment) terbukti dapat menurunkan jumlah virus HIV dan meningkatkan jumlah CD4, sehingga diasumsikan dapat pula menahan laju progresifitas penyakit hepatitis C. Namun, beberapa studi sampai saat ini belum dapat menunjukkan efek pemberian HAART terhadap perjalanan penyakit Hepatitis C.

B.    Tujuan
Tujuan umum
Penulisan makalah ini dilakukan untuk memenuhi tujuan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kita semua dalam menambah ilmu pengetahuan dan wawasan.
Tujuan khusus
Secara terperinci tujuan dari penelitian dan penulisan makalah ini adalah :
1.      Mengetahui pengertian HIV/AIDS serta memahami bahayanya.
2.      Mengetahui dan memahami patofisiologi virus HIV-hepatitis.
3.      Mengetahui dan mendeskripsikan manifestasi klinik dan pemeriksaan penunjang dalam menangani penularan virus HIV/AIDS.
4.      Mengetahui hubungan HIVdengan virus hepatitis










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

KONSEP PENYAKIT
A.  Definisi
AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus). (Aziz Alimul Hidayat, 2006)
AIDS adalah infeksi oportunistik yang menyerang seseorang dimana mengalami penurunan sistem imun yang mendasar ( sel T berjumlah 200 atau kurang ) dan memiliki antibodi positif terhadap HIV. (Doenges, 1999)
Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan hepar yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta bahan-bahan kimia. (Sujono Hadi, 1999).
Koinfeksi HIV-hepatitis adalah peradangan difus pada jaringan hepar yang dialami oleh penderita HIV. Dalam hal ini pasien dengan HIV telah memasuki fase infeksi oportunistik yang biasa dikenal dengan AIDS.

B.  Etiologi
Radang hati/hepatitis mempunyai beberapa penyebab, termasuk:
1.    Virus

Type A
Type B
Type C
Type D
Type E
Metode transmisi
Fekal-oral melalui orang lain
Parenteral seksual, perinatal
Parenteral jarang seksual, orang ke orang, perinatal
Parenteral perinatal, memerlukan koinfeksi dengan type B
Fekal-oral
Keparah-an
Tak ikterik dan asimto- matik
Parah
Menyebar luas, dapat berkem-bang sampai kronis
Peningkatan insiden kronis dan gagal hepar akut
Sama dengan D
Sumber virus
Darah, feces, saliva
Darah, saliva, semen, sekresi vagina
Terutama melalui darah
Melalui darah
Darah, feces, saliva

  1. Alkohol
Menyebabkan alkohol hepatitis dan selanjutnya menjadi alkohol sirosis.
  1. Obat-obatan
Menyebabkan toksik untuk hati, sehingga sering disebut hepatitis toksik dan hepatitis akut.
C.  Patofisiologi
HAV, HBV, dan HCV menyerang sel hati atau hepatosit yang menjadi tempat yang bersahabat bagi virus untuk berkembang biak. Sebagai reaksi terhadap infeksi, sistem  kekebalan tubuh memberikan perlawanan dan menyebabkan  peradangan hati (hepatitis). Bila hepatitisnya akut (yang dapat  terjadi dengan HAV dan HBV) atau menjadi kronis (yang dapat terjadi dengan HBV dan HCV) maka dapat bekembang menjadi jaringan parut di hati, sebuah kondisi yang disebut fibrosis.
Lambat laun, semakin banyak jaringan hati diganti dengan  jaringan parut seperti bekas luka, yang dapat menghalangi aliran  darah yang normal melalui hati dan sangat mempengaruhi  bentuk dan kemampuannya untuk berfungsi semestinya. Ini disebut sebagai sirosis. Bila hati rusak berat, mengakibatkan bendungan di limpa dan kerongkongan bagian bawah akibat  tekanan di organ yang tinggi. Dampak dari kondisi ini - yang disebut sebagai hipertensi portal termasuk pendarahan saluran cerna atas dan cairan dalam perut (asites). Kerusakan pada hati juga dapat mengurangi pembuatan cairan empedu yang dibutuhkan untuk pencernaan yang baik dan mengurangi kemampuan hati untuk menyimpan dan menguraikan bahan nutrisi yang dibutuhkan untuk hidup. Dampak lain dari hati yang rusak temasuk ketidakmampuan untuk menyaring racun dari aliran darah, yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan kesadaran dan bahkan koma.

D.  PATHWAY
(Terlampir)

E.  MANIFESTASI KLINIK
Menifestasi klinik dari semua jenis hepatitis virus secara umum sama. Manifestasi klinik dapat dibedakan berdasarkan stadium. Adapun manifestasi dari masing – amsing stadium adalah sebagai berikut.
1.    Stadium praicterik berlangsung selama 4 – 7 hari. Pasien mengeluh sakit kepala, lemah,anoreksia, muntah, demam, nyeri pada otot dan nyeri diperut kanan atas urin menjadi lebih coklat.
2.    Stadium icterik berlangsung selama 3 – 6 minggu. Icterus mula –mula terlihat pada sklera,kemudian pada kulit seluruh tubuh. Keluhan – keluhan berkurang, tetapi klien masih lemah, anoreksia dan muntah. Tinja mungkin berwarna kelabu atau kuning muda. Hati membesar dan nyeri tekan.
3.    Stadium pascaikterik (rekonvalesensi). Ikterus mereda, warna urin dan tinja menjadi normal lagi. Penyebuhan pada anak – anak menjadi lebih cepat pada orang dewasa, yaitu pada akhir bulan ke 2, karena penyebab yang biasanya berbeda.

F.   PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.    Laboratorium
a.    Pemeriksaan pigmen
·    urobilirubin direk
·    bilirubun serum total
·    bilirubin urine
·    urobilinogen urine
·    urobilinogen feses
b.    Pemeriksaan protein
·    protein totel serum
·    albumin serum
·    globulin serum
·    HbsAG
c.    Waktu protombin
·    respon waktu protombin terhadap vitamin K
d.   Pemeriksaan serum transferase dan transaminase
·    AST atau SGOT
·    ALT atau SGPT
·    LDH
·    Amonia serum
e.    Pemeriksaan CD4
2.    Radiologi
a.    Foto rontgen abdomen
b.    Pemindahan hati denagn preparat technetium, emas, atau rose bengal yang berlabel radioaktif
c.    Kolestogram dan kalangiogram
d.   Arteriografi pembuluh darah seliaka
3.    Pemeriksaan tambahan
a.    laparoskopi
b.    biopsi hati

G. ODHA DAN HEPATITIS A,B,C
1.    Odha dan Hepatitis A
Odha tidak mempunyai risiko terinfeksi HAV yang lebih tinggi daripada orang lain. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa Odha lebih mungkin mengalami gejala hepatitis A untuk jangka waktu yang lebih lama, dengan artinya mungkin membutuhkan lebih lama untuk pulih total dari hepatitis A.
2.    Odha dan Hepatitis B
Pada Odha, penyakit hepatitis B lebih mudah menjadi hepatitis B kronis bila terinfeksi HBV dibandingkan dengan orang HlV-negatif dengan sistem kekebalan tubuh yang kuat. Dengan  berlanjutnya infeksi HIV maka, reaksi kekebalan terhadap HBV semakin berkurang bahkan dapat menghilang. Hal ini dapat menyebabkan virus hepatitis B menjadi aktif kembali setelah masa tidak aktif, dan hal ini dapat meningkatkan risiko kerusakan hati. Data penelitian menunjukkan bahwa kegagalan hati pada orang dengan HIV dan hepatitis B kronis dua kali lipat lebih mungkin dibandingkan dengan orang HlV-negatif sehingga akhirnya perlu mempertimbangkan pencangkokan hati.
3.    Odha dan Hepatitis C
Infeksi HIV juga dapat mempercepat perjalanan infeksi HCV menjadi sirosis. Pada satu penelitian, orang terinfeksi HIV dan HCV bersama dua kali lipat lebih mungkin menjadi sirosis setelah 13 tahun dibandingkan dengan orang yang hanya terinfeksi HCV (15 persen versus 6 persen). Hasil serupa ditemukan pada penelitian lain.

Orang dengan HIV dan HCV bersama juga lebih mungkin mengalami kegagalan hati yang sering menjadi gawat bila tidak dilakukan pencangkokan hati - dibandingkan dengan orang yang hanya terinfeksi HCV. Pada satu penelitian, orang dengan hemofilia yang terinfeksi dengan kedua virus ternyata 21 kali lipat lebih mungkin meninggal karena kegagalan hati dibandingkan yang hanya terinfeksi HCV.


H.  PENATALAKSANAAN
1.      HIV-HAV
Pemakaian ARV pada ODHA dapat berdampak buruk untuk hati. Beberapa di antara obat ini dapat memperburuk gejala hepatitis A. Oleh karena ini, harus menghentikan penggunaan semua ARV sehingga hepatitis A mulai pulih atau tingkat enzim hati kembali normal.
Pengobatan umum untuk hepatitis A adalah istirahat di tempat tidur. Juga penting minum banyak cairan, terutama bila mengalami diare atau muntah. Selain itu juga analgetik untuk mengurangi gejala hepatitis A.
2.      HIV-HBV
Pengobatan HBV dilakukan terlebih dahulu, setelah itu dilanjutkan dengan obat-obatan antriretroviral. Ada tiga jenis pengobatan yang disetujui untuk hepatitis B kronis:
a.    Interferon-alfa: Obat ini meniru kegiatan interferon-alfa  yang berada secara alami dalam tubuh kita dan berfungsi sebagai antivirus. Bila dipakai tanpa obat lain pada orang HlV-negatif dan (selain HBV-nya) sehat, interferon-alfa dapat memberantas HBeAg untuk sampai 40 persen orang, dan HbsAg untuk sampai 15 persen orang. Karena alasan yang belum dipahami secara penuh, interferon-alfa tidak sama efektif bila dipakai oleh orang HlV-positif dan hepatitis B kronis. Karena manfaat pengobatan ini kemungkinan rendah, maka interferon tidak disarankan dipakai untuk mengobati HBV pada Odha.
b.    Lamivudine (3TC): Setelah disetujui untuk mengobati HIV, 3TC juga disetujui untuk mengobati hepatitis B kronis. Orang yang hanya terinfeksi HBV (dan tidak HIV) meminum satu tablet lOOmg 3TC setiap hari. Orang dengan HBV dan HIV bersama harus memakai dosis yang dibutuhkan untuk mengobati HIV - 300mg sehari.
c.    Adefovir dipivoxil: Penelitian obat ini pada awal untuk pengobatan HIV, tetapi dosis yang efektif untuk HIV menimbulkan efek samping pada ginjal. Dosis yang dibutuhkan untuk mengobati HBV jauh lebih rendah - hanya satu tablet lOmg sehari dan karena itu risiko efek samping pada ginjal juga lebih rendah.
3.      HIV-HCV
a.    Langkah pertama dalam mengobati HCV adalah untuk menentukan genotipe HCV. Kebanyakan orang terinfeksi dengan genotipe 1.
b.    Pengobatan umum untuk HCV genotipe 1 adalah kombinasi dua obat: interferon pegilasi (pegIFN) dan ribavirin (RBV) plus protease inhibitor HCV. Obat ini mempunyai efek samping yang berat, termasuk gejala mirip flu, lekas marah, depresi, dan kekurangan sel darah merah (anemia) atau sel darah putih (neutropenia).
c.    Orang dengan HCV genotipe 2, 3 dan 4 diobati dengan pegIFN dan RBV. Obat baru untuk HCV sedang dikembangkan.
Beberapa ARV sebaiknya dihindari selama pengobatan HCV. Jangan memakai ddI atau d4T dengan RBV. Hindari AZT selama pengobatan HCV, karena meningkatkan risiko anemia.
Jika memenuhi kriteria untuk terapi ARV (ART), sebaiknya mulai ART lebih dahulu. HIV yang tidak diobati selama 6-12 bulan dapat menimbulkan akibat yang berat.

KONSEP KEPERAWATAN
A.  PENGKAJIAN
Data dasar tergantung pada penyebab dan beratnya kerusakan/gangguan hati
1.    Aktivitas
·         Kelemahan
·         Kelelahan
·         Malaise
2.    Sirkulasi
·         Bradikardi ( hiperbilirubin berat )
·         Ikterik pada sklera kulit, membran mukosa
3.    Eliminasi
·         Urine gelap
·         Diare feses warna tanah liat
4.    Makanan dan Cairan
·         Anoreksia
·         Berat badan menurun
·         Mual dan muntah
·         Peningkatan oedema
·         Asites
5.    Neurosensori
·         Peka terhadap rangsang
·         Cenderung tidur
·         Letargi
·         Asteriksis
6.    Nyeri / Kenyamanan
·         Kram abdomen
·         Nyeri tekan pada kuadran kanan
·         Mialgia
·         Atralgia
·         Sakit kepala
·         Gatal ( pruritus )
7.    Keamanan
·         Demam
·         Urtikaria
·         Lesi makulopopuler
·         Eritema
·         Splenomegali
·         Pembesaran nodus servikal posterior
8.    Seksualitas
·         Pola hidup / perilaku meningkat resiko terpajan

B.  DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan .
2.    Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.
3.    Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar
4.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah
5.    Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder terhadap hepatitis
6.    Resiko tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan pruritus sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu
7.    Risiko tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan dengan sifat menular dari agent virus
C.  INTERVENSI KEPERAWATAN
1.    Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan pengumpulan cairan intraabdomen, asites penurunan ekspansi paru dan akumulasi sekret.
Hasil yang diharapkan :
Pola nafas adekuat
Intervensi :
a.    Awasi frekwensi , kedalaman dan upaya pernafasan
R/ pernafasan dangkal/cepat kemungkinan terdapat hipoksia atau akumulasi cairan dalam abdomen
b.    Auskultasi bunyi nafas tambahan
R/ kemungkinan menunjukkan adanya akumulasi cairan
c.    Berikan posisi semi fowler
R/ memudahkan pernafasan denagn menurunkan tekanan pada diafragma dan meminimalkan ukuran sekret
d.   Berikan latihan nafas dalam dan batuk efektif
R/ membantu ekspansi paru dalam memobilisasi lemak
e.    Berikan oksigen sesuai kebutuhan
R/ mungkin perlu untuk mencegah hipoksia

2.    Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.
Hasil yang diharapkan :
Menunjukkan tanda-tanda nyeri fisik dan perilaku dalam nyeri (tidak meringis kesakitan, menangis intensitas dan lokasinya)
a.    Kolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri
R/ nyeri yang berhubungan dengan hepatitis sangat tidak nyaman, oleh karena terdapat peregangan secara kapsula hati, melalui pendekatan kepada individu yang mengalami perubahan kenyamanan nyeri diharapkan lebih efektif mengurangi nyeri.
b.    Tunjukkan pada klien penerimaan tentang respon klien terhadap nyeri
R/ respon adanya nyeri
c.    Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan klien tentang nyerinya
R/ klienlah yang harus mencoba meyakinkan pemberi pelayanan kesehatan bahwa ia mengalami nyeri
d.   Berikan informasi akurat dan Jelaskan penyebab nyeri, Tunjukkan berapa lama nyeri akan berakhir, bila diketahui
R/ klien yang disiapkan untuk mengalami nyeri melalui penjelasan nyeri yang sesungguhnya akan dirasakan (cenderung lebih tenang dibanding klien yang penjelasan kurang/tidak terdapat penjelasan)
e.    Bahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tak mengandung efek hepatotoksi
R/ kemungkinan nyeri sudah tak bisa dibatasi dengan teknik untuk mengurangi nyeri.

3.    Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar.
Hasil yang diharapkan :           
Tidak terjadi peningkatan suhu
a.    Monitor tanda vital : suhu badan
R/ sebagai indikator untuk mengetahui status hypertermi
b.    Ajarkan klien pentingnya mempertahankan cairan yang adekuat (sedikitnya 2000 l/hari) untuk mencegah dehidrasi, misalnya sari buah 2,5-3 liter/hari.
R/  dalam kondisi demam terjadi peningkatan evaporasi yang memicu timbulnya dehidrasi
c.    Berikan kompres hangat pada lipatan ketiak dan femur
R/ menghambat pusat simpatis di hipotalamus sehingga terjadi vasodilatasi kulit dengan merangsang kelenjar keringat untuk mengurangi panas tubuh melalui penguapan
d.   Anjurkan klien untuk memakai pakaian yang menyerap keringat
R/      kondisi kulit yang mengalami lembab memicu timbulnya pertumbuhan jamur. Juga akan mengurangi kenyamanan klien, mencegah timbulnya ruam kulit.
4.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah.
Hasil yang diharapkan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas dari tanda-tanda mal nutrisi.
a.    Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan
R/ keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk makan
b.    Awasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering
R/ adanya pembesaran hepar dapat menekan saluran gastro intestinal dan menurunkan kapasitasnya.
c.    Pertahankan hygiene mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan
R/ akumulasi partikel makanan di mulut dapat menambah baru dan rasa tak sedap yang menurunkan nafsu makan.
d.   Anjurkan makan pada posisi duduk tegak
R/ menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan
e.    Berikan diit tinggi kalori, rendah lemak
R/ glukosa dalam karbohidrat cukup efektif untuk pemenuhan energi, sedangkan lemak sulit untuk diserap/dimetabolisme sehingga akan membebani hepar.

5.    Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder terhadap hepatitis
a.    Jelaskan sebab-sebab keletihan individu
R/ dengan penjelasan sebab-sebab keletihan maka keadaan klien cenderung lebih tenang
b.    Sarankan klien untuk tirah baring
R/ tirah baring akan meminimalkan energi yang dikeluarkan sehingga metabolisme dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit.
c.    Bantu individu untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan, kemampuan-kemampuan dan minat-minat
R/ memungkinkan klien dapat memprioritaskan kegiatan-kegiatan yang sangat penting dan meminimalkan pengeluaran energi untuk kegiatan yang kurang penting
d.   Analisa bersama-sama tingkat keletihan selama 24 jam meliputi waktu puncak energi, waktu kelelahan, aktivitas yang berhubungan dengan keletihan
R/ keletihan dapat segera diminimalkan dengan mengurangi kegiatan yang dapat menimbulkan keletihan
e.    Bantu untuk belajar tentang keterampilan koping yang efektif (bersikap asertif, teknik relaksasi)
R/ untuk mengurangi keletihan baik fisik maupun psikologis

6.    Resiko tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan pruritus sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu
Hasil yang diharapkan :
Jaringan kulit utuh, penurunan pruritus.

a.    Pertahankan kebersihan tanpa menyebabkan kulit kering
-       Sering mandi dengan menggunakan air dingin dan sabun ringan (kadtril, lanolin)
-       Keringkan kulit, jaringan digosok
R/ kekeringan meningkatkan sensitifitas kulit dengan merangsang ujung syaraf
b.    Cegah penghangatan yang berlebihan dengan pertahankan suhu ruangan dingin dan kelembaban rendah, hindari pakaian terlalu tebal
R/ penghangatan yang berlebih menambah pruritus dengan meningkatkan sensitivitas melalui vasodilatasi
c.    Anjurkan tidak menggaruk, instruksikan klien untuk memberikan tekanan kuat pada area pruritus untuk tujuan menggaruk
R/ penggantian merangsang pelepasan hidtamin, menghasilkan lebih banyak pruritus
d.   Pertahankan kelembaban ruangan pada 30%-40% dan dingin
R/ pendinginan akan menurunkan vasodilatasi dan kelembaban kekeringan

         
7.    Risiko tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan dengan sifat menular dari agent virus
Hasil yang diharapkan :
Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
a.    Gunakan kewaspadaan umum terhadap substansi tubuh yang tepat untuk menangani semua cairan tubuh
-       Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan semua klien atau spesimen
-       Gunakan sarung tangan untuk kontak dengan darah dan cairan tubuh
-       Tempatkan spuit yang telah digunakan dengan segera pada wadah yang tepat, jangan menutup kembali atau memanipulasi jarum dengan cara apapun
R/ pencegahan tersebut dapat memutuskan metode transmisi virus hepatitis
b.    Gunakan teknik pembuangan sampah infeksius, linen dan cairan tubuh dengan tepat untuk membersihkan peralatan-peralatan dan permukaan yang terkontaminasi
R/ teknik ini membantu melindungi orang lain dari kontak dengan materi infeksius dan mencegah transmisi penyakit
c.    Jelaskan pentingnya mencuci tangan dengan sering pada klien, keluarga dan pengunjung lain dan petugas pelayanan kesehatan.
R/ mencuci tangan menghilangkan organisme yang merusak rantai transmisi infeksi
d.   Rujuk ke petugas pengontrol infeksi untuk evaluasi departemen kesehatan yang tepat
R/ rujukan tersebut perlu untuk mengidentifikasikan sumber pemajanan dan kemungkinan orang lain terinfeksi









PATHWAY






















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Hepatitis merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus  menyebakan peradangan pada hati. Hepatitis selain disebakan oleh virus disebabkan juga alcohol dan juga obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Hepatitis pada penderita HIV akan memperburuk keadaan penderita tersebut karena fungsi hati untuk mentolerir ARV menjadi terganggu.
SARAN
Pasien dengan HIV positif harus memproteksi diri dengan maksimal agar terhindar dari pajanan penyakit berbahaya. Penggunaan ARV harus teratur agar mempertahankan jumlah CD4 sehingga immune tetap terjaga. Harus dilakukan penanganan segera pada penderita HIV dengan komplikasi hepar agar tidak terjadi kerusakan hepar lebih lanjut.















DAFTAR PUSTAKA

Carpenito Lynda Jual, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, EGC, Jakarta.
Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S. Jakarta: ECG
Green, Crish W. (2005). Seri buku kecil hepatitis virus dan HIV. Jakarta: Yayasan spiritia
Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Mansjoer, Arif . 2000 . Kapita Selekta Kedokteran . Jakarta : Media Sculapius
Price , Sylvia A dan Lorraine M.Wilson . 2005 . Patofissiologis Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit . Jakarta : EGC
Smeltzer, suzanna C, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan Suddart. Alih bahasa Agung Waluyo, Edisi 8, jakarta, EGC, 2001.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar