BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berdasarkan
data Departemen kesehatan (Depkes) pada periode Juli-September 2006 secara
kumulatif tercatat pengidap HIV positif di tanah air telah mencapai 4.617 orang
dan AIDS 6.987 orang. Menderita HIV/AIDS di Indonesia dianggap aib, sehingga
dapat menyebabkan tekanan psikologis terutama pada penderitanya maupun pada
keluarga dan lingkungan disekeliling penderita.
Secara
fisiologis HIV menyerang sisitem kekebalan tubuh penderitanya. Jika ditambah
dengan stress psikososial-spiritual yang berkepanjangan pada pasien terinfeksi
HIV, maka akan mempercepat terjadinya AIDS, bahkan meningkatkan angka kematian.
Menurut Ross (1997), jika stress mencapai tahap kelelahan (exhausted stage), maka dapat menimbulkan kegagalan fungsi system
imun yang memperparah keadaan pasien serta mempercepat terjadinya AIDS.
Modulasi respon imun penderita HIV/AIDS akan menurun secara signifikan, seperti
aktivitas APC (makrofag); Thl (CD4); IFN ; IL-2; Imunoglobulin A, G, E dan anti-HIV. Penurunan
tersebut akan berdampak terhadap penurunan jumlah CD4 hingga mencapai 180 sel/ l per tahun.
Pada umumnya, koinfeksi Hepatitis
C-HIV sering ditemukan, mungkin hal ini disebabkan karena penularan virus
hepatitis C dan HIV terjadi melalui jalur yang serupa yaitu melalui perantaraan
cairan tubuh. Prevalensi hepatitis C pada orang dengan HIV/AIDS (Odha) secara
keseluruhan adalah sekitar 40%, namun terdapat variasi prevalensi pada
masing-masing kelompok risiko. Beberapa studi menunjukkan bahwa prevalensi yang
tinggi tertama ditemukan pada Odha yang merupakan pecandu narkotika suntik
yaitu sekitar 50-90%. Studi EuroSIDA yang melibatkan 3048 Odha menunjukkan
bahwa 33% dari mereka terinfeksi Hepatitis C.
Sementara khusus pada
Odha yang merupakan pecandu narkotika suntik lebih dari 75% positif terinfeksi
hepatitis C. Data dari Laboratorium Imunologi Subbagian Hematologi Bagian Ilmu
Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Mei 2000-awal Desember 2002 menunjukkan bahwa dari
199 Odha yang merupakan pecandu narkotika suntik, 125 (62,8%) orang terinfeksi
Hepatitis C.
Koinfeksi
hepatitis C dan HIV akan menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang
serius mengingat adanya tren peningkatan kasus HIV/AIDS yang tertular melalui
jarum suntik. Replikasi virus Hepatitis C akan meningkat dengan adanya infeksi
HIV. Umumnya 20-30% orang yang terinfeksi hepatitis C akan berlanjut menjadi
sirosis dalam waktu 10-20 tahun. Adanya ko-infeksi dengan HIV akan menyebabkan
peningkatan insidens sirosis, juga akan menyebabkan interval antara infeksi
sampai terjadinya sirosis menjadi memendek. Pengobatan HIV dengan HAART (High
Active Anti Retroviral Treatment) terbukti dapat menurunkan jumlah virus HIV
dan meningkatkan jumlah CD4, sehingga diasumsikan dapat pula menahan laju
progresifitas penyakit hepatitis C. Namun, beberapa studi sampai saat ini belum
dapat menunjukkan efek pemberian HAART terhadap perjalanan penyakit Hepatitis
C.
B.
Tujuan
Tujuan umum
Penulisan
makalah ini dilakukan untuk memenuhi tujuan yang diharapkan dapat bermanfaat
bagi kita semua dalam menambah ilmu pengetahuan dan wawasan.
Tujuan khusus
Secara
terperinci tujuan dari penelitian dan penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui
pengertian HIV/AIDS serta memahami bahayanya.
2. Mengetahui
dan memahami patofisiologi virus HIV-hepatitis.
3. Mengetahui
dan mendeskripsikan manifestasi klinik dan pemeriksaan penunjang dalam
menangani penularan virus HIV/AIDS.
4. Mengetahui
hubungan HIVdengan virus hepatitis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
KONSEP
PENYAKIT
A. Definisi
AIDS merupakan kumpulan gejala
penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV (Human
Immunodeficiency Virus). (Aziz Alimul Hidayat, 2006)
AIDS adalah infeksi oportunistik
yang menyerang seseorang dimana mengalami penurunan sistem imun yang mendasar (
sel T berjumlah 200 atau kurang ) dan memiliki antibodi positif terhadap HIV.
(Doenges, 1999)
Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan hepar yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap
obat-obatan serta bahan-bahan kimia. (Sujono Hadi, 1999).
Koinfeksi HIV-hepatitis adalah
peradangan difus pada jaringan hepar yang dialami oleh penderita HIV. Dalam hal
ini pasien dengan HIV telah memasuki fase infeksi oportunistik yang biasa
dikenal dengan AIDS.
B. Etiologi
Radang hati/hepatitis mempunyai
beberapa penyebab, termasuk:
1. Virus
|
Type A
|
Type B
|
Type C
|
Type D
|
Type E
|
|
|
Metode transmisi
|
Fekal-oral melalui orang
lain
|
Parenteral seksual,
perinatal
|
Parenteral jarang seksual,
orang ke orang, perinatal
|
Parenteral perinatal,
memerlukan koinfeksi dengan type B
|
Fekal-oral
|
|
Keparah-an
|
Tak ikterik dan asimto-
matik
|
Parah
|
Menyebar luas, dapat
berkem-bang sampai kronis
|
Peningkatan insiden kronis
dan gagal hepar akut
|
Sama dengan D
|
|
Sumber virus
|
Darah, feces, saliva
|
Darah, saliva, semen,
sekresi vagina
|
Terutama melalui darah
|
Melalui darah
|
Darah, feces, saliva
|
- Alkohol
Menyebabkan alkohol hepatitis dan selanjutnya menjadi alkohol sirosis.
- Obat-obatan
Menyebabkan toksik untuk hati, sehingga sering disebut hepatitis toksik dan
hepatitis akut.
C. Patofisiologi
HAV, HBV,
dan HCV menyerang sel hati atau hepatosit yang menjadi tempat yang bersahabat
bagi virus untuk berkembang biak. Sebagai reaksi terhadap infeksi, sistem kekebalan tubuh memberikan perlawanan dan
menyebabkan peradangan hati (hepatitis).
Bila hepatitisnya akut (yang dapat
terjadi dengan HAV dan HBV) atau menjadi kronis (yang dapat terjadi
dengan HBV dan HCV) maka dapat bekembang menjadi jaringan parut di hati, sebuah
kondisi yang disebut fibrosis.
Lambat laun,
semakin banyak jaringan hati diganti dengan
jaringan parut seperti bekas luka, yang dapat menghalangi aliran darah yang normal melalui hati dan sangat
mempengaruhi bentuk dan kemampuannya
untuk berfungsi semestinya. Ini disebut sebagai sirosis. Bila hati rusak berat,
mengakibatkan bendungan di limpa dan kerongkongan bagian bawah akibat tekanan di organ yang tinggi. Dampak dari
kondisi ini - yang disebut sebagai hipertensi portal termasuk pendarahan
saluran cerna atas dan cairan dalam perut (asites). Kerusakan pada hati juga
dapat mengurangi pembuatan cairan empedu yang dibutuhkan untuk pencernaan yang
baik dan mengurangi kemampuan hati untuk menyimpan dan menguraikan bahan
nutrisi yang dibutuhkan untuk hidup. Dampak lain dari hati yang rusak temasuk
ketidakmampuan untuk menyaring racun dari aliran darah, yang pada akhirnya
dapat menyebabkan penurunan kesadaran dan bahkan koma.
D. PATHWAY
(Terlampir)
E. MANIFESTASI KLINIK
Menifestasi
klinik dari semua jenis hepatitis virus secara umum sama. Manifestasi klinik
dapat dibedakan berdasarkan stadium. Adapun manifestasi dari masing – amsing
stadium adalah sebagai berikut.
1.
Stadium praicterik berlangsung selama 4 – 7 hari.
Pasien mengeluh sakit kepala, lemah,anoreksia, muntah, demam, nyeri pada otot
dan nyeri diperut kanan atas urin menjadi lebih coklat.
2.
Stadium icterik berlangsung selama 3 – 6 minggu.
Icterus mula –mula terlihat pada sklera,kemudian pada kulit seluruh tubuh.
Keluhan – keluhan berkurang, tetapi klien masih lemah, anoreksia dan muntah.
Tinja mungkin berwarna kelabu atau kuning muda. Hati membesar dan nyeri tekan.
3.
Stadium pascaikterik (rekonvalesensi). Ikterus mereda,
warna urin dan tinja menjadi normal lagi. Penyebuhan pada anak – anak menjadi
lebih cepat pada orang dewasa, yaitu pada akhir bulan ke 2, karena penyebab
yang biasanya berbeda.
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.
Laboratorium
a.
Pemeriksaan
pigmen
· urobilirubin direk
· bilirubun serum total
· bilirubin urine
· urobilinogen urine
· urobilinogen feses
b.
Pemeriksaan
protein
· protein totel serum
· albumin serum
· globulin serum
· HbsAG
c.
Waktu
protombin
· respon waktu protombin terhadap vitamin K
d.
Pemeriksaan
serum transferase dan transaminase
· AST atau SGOT
· ALT atau SGPT
· LDH
· Amonia serum
e.
Pemeriksaan CD4
2.
Radiologi
a. Foto rontgen abdomen
b. Pemindahan hati denagn preparat technetium, emas, atau rose bengal yang berlabel
radioaktif
c. Kolestogram dan kalangiogram
d. Arteriografi pembuluh darah seliaka
3.
Pemeriksaan
tambahan
a. laparoskopi
b. biopsi hati
G. ODHA DAN HEPATITIS A,B,C
1.
Odha dan Hepatitis A
Odha tidak
mempunyai risiko terinfeksi HAV yang lebih tinggi daripada orang lain. Namun
beberapa penelitian menunjukkan bahwa Odha lebih mungkin mengalami gejala
hepatitis A untuk jangka waktu yang lebih lama, dengan artinya mungkin
membutuhkan lebih lama untuk pulih total dari hepatitis A.
2.
Odha dan Hepatitis B
Pada Odha,
penyakit hepatitis B lebih mudah menjadi hepatitis B kronis bila terinfeksi HBV
dibandingkan dengan orang HlV-negatif dengan sistem kekebalan tubuh yang kuat.
Dengan berlanjutnya infeksi HIV maka,
reaksi kekebalan terhadap HBV semakin berkurang bahkan dapat menghilang. Hal
ini dapat menyebabkan virus hepatitis B menjadi aktif kembali setelah masa
tidak aktif, dan hal ini dapat meningkatkan risiko kerusakan hati. Data
penelitian menunjukkan bahwa kegagalan hati pada orang dengan HIV dan hepatitis
B kronis dua kali lipat lebih mungkin dibandingkan dengan orang HlV-negatif
sehingga akhirnya perlu mempertimbangkan pencangkokan hati.
3.
Odha dan Hepatitis C
Infeksi HIV
juga dapat mempercepat perjalanan infeksi HCV menjadi sirosis. Pada satu
penelitian, orang terinfeksi HIV dan HCV bersama dua kali lipat lebih mungkin
menjadi sirosis setelah 13 tahun dibandingkan dengan orang yang hanya
terinfeksi HCV (15 persen versus 6 persen). Hasil serupa ditemukan pada
penelitian lain.
Orang dengan
HIV dan HCV bersama juga lebih mungkin mengalami kegagalan hati yang sering
menjadi gawat bila tidak dilakukan pencangkokan hati - dibandingkan dengan
orang yang hanya terinfeksi HCV. Pada satu penelitian, orang dengan hemofilia
yang terinfeksi dengan kedua virus ternyata 21 kali lipat lebih mungkin
meninggal karena kegagalan hati dibandingkan yang hanya terinfeksi HCV.
H. PENATALAKSANAAN
1.
HIV-HAV
Pemakaian
ARV pada ODHA dapat berdampak buruk untuk hati. Beberapa di antara obat ini
dapat memperburuk gejala hepatitis A. Oleh karena ini, harus menghentikan
penggunaan semua ARV sehingga hepatitis A mulai pulih atau tingkat enzim hati
kembali normal.
Pengobatan
umum untuk hepatitis A adalah istirahat di tempat tidur. Juga penting minum
banyak cairan, terutama bila mengalami diare atau muntah. Selain itu juga
analgetik untuk mengurangi gejala hepatitis A.
2.
HIV-HBV
Pengobatan
HBV dilakukan terlebih dahulu, setelah itu dilanjutkan dengan obat-obatan
antriretroviral. Ada tiga jenis pengobatan yang disetujui untuk hepatitis B
kronis:
a.
Interferon-alfa: Obat ini meniru kegiatan
interferon-alfa yang berada secara alami
dalam tubuh kita dan berfungsi sebagai antivirus. Bila dipakai tanpa obat lain
pada orang HlV-negatif dan (selain HBV-nya) sehat, interferon-alfa dapat
memberantas HBeAg untuk sampai 40 persen orang, dan HbsAg untuk sampai 15
persen orang. Karena alasan yang belum dipahami secara penuh, interferon-alfa
tidak sama efektif bila dipakai oleh orang HlV-positif dan hepatitis B kronis.
Karena manfaat pengobatan ini kemungkinan rendah, maka interferon tidak
disarankan dipakai untuk mengobati HBV pada Odha.
b.
Lamivudine (3TC): Setelah disetujui untuk mengobati
HIV, 3TC juga disetujui untuk mengobati hepatitis B kronis. Orang yang hanya
terinfeksi HBV (dan tidak HIV) meminum satu tablet lOOmg 3TC setiap hari. Orang
dengan HBV dan HIV bersama harus memakai dosis yang dibutuhkan untuk mengobati
HIV - 300mg sehari.
c.
Adefovir dipivoxil: Penelitian obat ini pada awal
untuk pengobatan HIV, tetapi dosis yang efektif untuk HIV menimbulkan efek samping
pada ginjal. Dosis yang dibutuhkan untuk mengobati HBV jauh lebih rendah -
hanya satu tablet lOmg sehari dan karena itu risiko efek samping pada ginjal
juga lebih rendah.
3.
HIV-HCV
a.
Langkah pertama dalam mengobati HCV adalah untuk
menentukan genotipe HCV. Kebanyakan orang terinfeksi dengan genotipe 1.
b.
Pengobatan umum untuk HCV genotipe 1 adalah kombinasi
dua obat: interferon pegilasi (pegIFN) dan ribavirin (RBV) plus protease
inhibitor HCV. Obat ini mempunyai efek samping yang berat, termasuk gejala mirip
flu, lekas marah, depresi, dan kekurangan sel darah merah (anemia) atau sel
darah putih (neutropenia).
c.
Orang dengan HCV genotipe 2, 3 dan 4 diobati dengan
pegIFN dan RBV. Obat baru untuk HCV sedang dikembangkan.
Beberapa ARV sebaiknya dihindari selama pengobatan HCV. Jangan memakai
ddI atau d4T dengan RBV. Hindari AZT selama pengobatan HCV, karena
meningkatkan risiko anemia.
Jika memenuhi kriteria untuk terapi ARV (ART), sebaiknya mulai ART lebih
dahulu. HIV yang
tidak diobati selama 6-12 bulan dapat menimbulkan akibat yang berat.
KONSEP
KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Data
dasar tergantung pada penyebab dan beratnya kerusakan/gangguan hati
1.
Aktivitas
·
Kelemahan
·
Kelelahan
·
Malaise
2. Sirkulasi
·
Bradikardi ( hiperbilirubin berat )
·
Ikterik pada sklera kulit, membran mukosa
3. Eliminasi
·
Urine gelap
·
Diare feses warna tanah liat
4. Makanan
dan Cairan
·
Anoreksia
·
Berat badan menurun
·
Mual dan muntah
·
Peningkatan oedema
·
Asites
5. Neurosensori
·
Peka terhadap rangsang
·
Cenderung tidur
·
Letargi
·
Asteriksis
6. Nyeri
/ Kenyamanan
·
Kram abdomen
·
Nyeri tekan pada kuadran kanan
·
Mialgia
·
Atralgia
·
Sakit kepala
·
Gatal ( pruritus )
7. Keamanan
·
Demam
·
Urtikaria
·
Lesi makulopopuler
·
Eritema
·
Splenomegali
·
Pembesaran nodus servikal posterior
8. Seksualitas
·
Pola hidup / perilaku meningkat resiko
terpajan
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan .
2. Gangguan
rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami
inflamasi hati dan bendungan vena porta.
3. Hypertermi
berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap
inflamasi hepar
4. Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman
di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan,
kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan
muntah
5. Keletihan
berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder terhadap hepatitis
6. Resiko
tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan pruritus
sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu
7. Risiko
tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan dengan sifat menular dari agent
virus
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan
pengumpulan cairan intraabdomen, asites penurunan ekspansi paru dan akumulasi
sekret.
Hasil
yang diharapkan :
Pola nafas adekuat
Intervensi :
a. Awasi frekwensi , kedalaman dan upaya
pernafasan
R/ pernafasan dangkal/cepat kemungkinan
terdapat hipoksia atau akumulasi cairan dalam abdomen
b. Auskultasi bunyi nafas tambahan
R/ kemungkinan menunjukkan adanya akumulasi
cairan
c. Berikan posisi semi fowler
R/ memudahkan pernafasan denagn menurunkan
tekanan pada diafragma dan meminimalkan ukuran sekret
d. Berikan latihan nafas dalam dan batuk efektif
R/ membantu ekspansi paru dalam memobilisasi
lemak
e. Berikan oksigen sesuai kebutuhan
R/ mungkin perlu untuk mencegah hipoksia
2. Gangguan
rasa nyaman (nyeri)
berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan
bendungan vena porta.
Hasil
yang diharapkan :
Menunjukkan tanda-tanda nyeri fisik dan
perilaku dalam nyeri (tidak meringis kesakitan, menangis intensitas dan
lokasinya)
a. Kolaborasi dengan individu untuk menentukan
metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri
R/ nyeri yang berhubungan dengan hepatitis
sangat tidak nyaman, oleh karena terdapat peregangan secara kapsula hati,
melalui pendekatan kepada individu yang mengalami perubahan kenyamanan nyeri
diharapkan lebih efektif mengurangi nyeri.
b. Tunjukkan pada klien penerimaan tentang respon
klien terhadap nyeri
R/
respon adanya nyeri
c. Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan
klien tentang nyerinya
R/ klienlah yang harus mencoba meyakinkan
pemberi pelayanan kesehatan bahwa ia mengalami nyeri
d. Berikan informasi akurat dan Jelaskan penyebab
nyeri,
Tunjukkan berapa lama nyeri akan berakhir,
bila diketahui
R/ klien yang disiapkan untuk mengalami nyeri
melalui penjelasan nyeri yang sesungguhnya akan dirasakan (cenderung lebih
tenang dibanding klien yang penjelasan kurang/tidak terdapat penjelasan)
e. Bahas dengan dokter penggunaan analgetik yang
tak mengandung efek hepatotoksi
R/ kemungkinan nyeri sudah tak bisa dibatasi
dengan teknik untuk mengurangi nyeri.
3. Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam
sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar.
Hasil
yang diharapkan :
Tidak terjadi peningkatan suhu
a. Monitor tanda vital : suhu badan
R/ sebagai indikator untuk mengetahui status
hypertermi
b. Ajarkan klien pentingnya mempertahankan cairan
yang adekuat (sedikitnya 2000 l/hari) untuk mencegah dehidrasi, misalnya sari
buah 2,5-3 liter/hari.
R/
dalam kondisi demam terjadi peningkatan evaporasi yang memicu timbulnya
dehidrasi
c. Berikan kompres hangat pada lipatan ketiak dan
femur
R/ menghambat pusat simpatis di hipotalamus
sehingga terjadi vasodilatasi kulit dengan merangsang kelenjar keringat untuk
mengurangi panas tubuh melalui penguapan
d. Anjurkan klien untuk memakai pakaian yang
menyerap keringat
R/ kondisi
kulit yang mengalami lembab memicu timbulnya pertumbuhan jamur. Juga akan
mengurangi kenyamanan klien, mencegah timbulnya ruam kulit.
4.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di
kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan,
kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan
muntah.
Hasil
yang diharapkan :
Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium
normal dan bebas dari tanda-tanda mal nutrisi.
a.
Ajarkan
dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan
R/
keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk
makan
b.
Awasi
pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan
pagi paling sering
R/
adanya pembesaran hepar dapat menekan saluran
gastro intestinal dan menurunkan kapasitasnya.
c. Pertahankan hygiene mulut yang baik sebelum
makan dan sesudah makan
R/
akumulasi partikel makanan di mulut dapat
menambah baru dan rasa tak sedap yang menurunkan nafsu makan.
d. Anjurkan makan pada posisi duduk tegak
R/ menurunkan rasa penuh pada abdomen dan
dapat meningkatkan pemasukan
e. Berikan diit tinggi kalori, rendah lemak
R/
glukosa dalam karbohidrat cukup efektif untuk
pemenuhan energi, sedangkan lemak sulit untuk diserap/dimetabolisme sehingga
akan membebani hepar.
5. Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis
sekunder terhadap hepatitis
a. Jelaskan sebab-sebab keletihan individu
R/ dengan penjelasan sebab-sebab keletihan
maka keadaan klien cenderung lebih tenang
b. Sarankan klien untuk tirah baring
R/
tirah baring akan meminimalkan energi yang
dikeluarkan sehingga metabolisme dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit.
c. Bantu individu untuk mengidentifikasi
kekuatan-kekuatan, kemampuan-kemampuan dan minat-minat
R/ memungkinkan klien dapat memprioritaskan
kegiatan-kegiatan yang sangat penting dan meminimalkan pengeluaran energi untuk
kegiatan yang kurang penting
d. Analisa bersama-sama tingkat keletihan selama
24 jam meliputi waktu puncak energi, waktu kelelahan, aktivitas yang
berhubungan dengan keletihan
R/ keletihan dapat segera diminimalkan dengan
mengurangi kegiatan yang dapat menimbulkan keletihan
e. Bantu untuk belajar tentang keterampilan
koping yang efektif (bersikap asertif, teknik relaksasi)
R/ untuk mengurangi keletihan baik fisik
maupun psikologis
6. Resiko
tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan pruritus sekunder terhadap
akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu
Hasil
yang diharapkan :
Jaringan kulit utuh, penurunan pruritus.
a.
Pertahankan
kebersihan tanpa menyebabkan kulit kering
-
Sering
mandi dengan menggunakan air dingin dan sabun ringan (kadtril, lanolin)
-
Keringkan
kulit, jaringan digosok
R/ kekeringan meningkatkan sensitifitas kulit
dengan merangsang ujung syaraf
b. Cegah penghangatan yang berlebihan dengan
pertahankan suhu ruangan dingin dan kelembaban rendah, hindari pakaian terlalu
tebal
R/
penghangatan yang berlebih menambah pruritus
dengan meningkatkan sensitivitas melalui vasodilatasi
c. Anjurkan tidak menggaruk, instruksikan klien
untuk memberikan tekanan kuat pada area pruritus untuk tujuan menggaruk
R/
penggantian merangsang pelepasan hidtamin,
menghasilkan lebih banyak pruritus
d. Pertahankan kelembaban ruangan pada 30%-40%
dan dingin
R/
pendinginan akan menurunkan vasodilatasi dan
kelembaban kekeringan
7. Risiko
tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan
dengan sifat menular dari agent virus
Hasil
yang diharapkan :
Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
a. Gunakan kewaspadaan umum terhadap substansi
tubuh yang tepat untuk menangani semua cairan tubuh
-
Cuci
tangan sebelum dan sesudah kontak dengan semua klien atau spesimen
-
Gunakan
sarung tangan untuk kontak dengan darah dan cairan tubuh
-
Tempatkan
spuit yang telah digunakan dengan segera pada wadah yang tepat, jangan menutup
kembali atau memanipulasi jarum dengan cara apapun
R/ pencegahan tersebut dapat memutuskan metode
transmisi virus hepatitis
b. Gunakan teknik pembuangan sampah infeksius,
linen dan cairan tubuh dengan tepat untuk membersihkan peralatan-peralatan dan
permukaan yang terkontaminasi
R/ teknik ini membantu melindungi orang lain
dari kontak dengan materi infeksius dan mencegah transmisi penyakit
c. Jelaskan pentingnya mencuci tangan dengan
sering pada klien, keluarga dan pengunjung lain dan petugas pelayanan
kesehatan.
R/ mencuci tangan menghilangkan organisme yang
merusak rantai transmisi infeksi
d. Rujuk ke petugas pengontrol infeksi untuk
evaluasi departemen kesehatan yang tepat
R/ rujukan tersebut perlu untuk
mengidentifikasikan sumber pemajanan dan kemungkinan orang lain terinfeksi
PATHWAY
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Hepatitis merupakan penyakit yang disebabkan oleh
virus menyebakan peradangan pada hati. Hepatitis selain disebakan oleh
virus disebabkan juga alcohol dan juga obat-obatan dan bahan-bahan kimia.
Hepatitis pada penderita HIV akan memperburuk keadaan penderita tersebut karena
fungsi hati untuk mentolerir ARV menjadi terganggu.
SARAN
Pasien dengan HIV positif harus memproteksi diri
dengan maksimal agar terhindar dari pajanan penyakit berbahaya. Penggunaan ARV
harus teratur agar mempertahankan jumlah CD4 sehingga immune tetap terjaga.
Harus dilakukan penanganan segera pada penderita HIV dengan komplikasi hepar
agar tidak terjadi kerusakan hepar lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito Lynda Jual, 1999, Rencana
Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, EGC, Jakarta.
Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana
Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian
Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S.
Jakarta: ECG
Green,
Crish W. (2005). Seri buku kecil hepatitis virus dan HIV. Jakarta: Yayasan
spiritia
Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar
Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Mansjoer, Arif . 2000 . Kapita
Selekta Kedokteran . Jakarta : Media Sculapius
Price , Sylvia A dan Lorraine
M.Wilson . 2005 . Patofissiologis Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit
. Jakarta : EGC
Smeltzer, suzanna C, Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan Suddart. Alih bahasa Agung Waluyo,
Edisi 8, jakarta, EGC, 2001.